Poros Budaya Solo-Minahasa

Pdm. Ev. Kra Victor Rarung Hadiningrat MTh saat mendapat Gelar Bangsawan dari Keraton Solo

 

Manadopost.com-.”Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan“(Petitih Jawa).

In the end, if we want to live in a harmonious and understanding world, we must learn to communicate across cultures.” —Unknown.

Meski dewasa ini kita mengalami kondisi dab iklim kebangsaan yang penuh ketimpangan dan nyaris bisa memicu konflik horisontal, di sisi lain muncul sikap dan tindakan berbasis aktivitas budaya.

Selain dari kreativitas seni, sastra, musik, film, teater, tari dan tradisi-tradisi yang umumnya masih dijaga dan dilestarikan. Apalagi, pemerintah melalui Dirjen Kebudayaan sejak 2017 telah mengatur seluruh aktivitas kebudayaan dalam UU No.
5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Di antara isi undang-undangan Pemajuan Kebudayaan terdapat unsur merevitalisasi dan melestarikan nilai-nilai, aset dan artefak budaya yang dimiliki oleh banyak kandungan sistem, nilai dan pranata dari berbagai suku, etnis dan agama. Walhasil, karsa, karya dan hayat kebudayaan Indonesia dilihat dari jumlah etnis dan bahaya berkisar 300 lebih.

Ditilik dari sejarah kebudayaan di sekitar masuk Hindu pada abad-10 dan disusul Budha, khusus di pulau Jawa dan Sumatra serta Kalimantan, bentuk-bentuk kerajaan sudah begitu marak seperti Mataram, Sriwijaya hingga Kutai Kertanegara dengan produk kebudayaannya sendiri. Akan tetapi, lingua franca di kala itu atau bahasa pergaulan sangat populer bahasa Sansekerta sebelum berubah jadi Jawa kuno(Kawi).

Salah satu aset kebudayaan yang terus langgeng adalah kebudayaan keraton yang diwarisi dari sistem kerajaan. Di antara pewarisan itu adalah penentuan raja, terutama untuk keraton Solo dan Yogyakarta.

Demikian pula pemberian gelar bangsawan dari Raja Keraton Solo Sri Susuhunan Pakubuwana XIII di Keraton Kasunanan Hadiningrat Solo.Jalan Kamandungan, Baluwarti, Kec. Ps. Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah, pada mereka yang dianggap layak dihormati secara harkat dan martabat.

Beruntung, seorang putra asal Minahasa, Pdm.Victor Rarung,M.Th yang juga Sebagai Staff Khusus Gubernur Sulut Olly Dondokambey, pada 6 Juli 2024 silam terpilih untuk menerima Gelar Bangsawan dari Keraton Kasunanan Hadiningrat Solo dengan gelar Kanjeng Raden Aryo-KRA Victor Rarung Hadiningrat.

Baca juga:  Komplotan Pencuri Tiang Jaringan Fiber Optic Diamankan Tim Resmob Polda Sulut

Menurut sejumlah keterangan dari kerabat keraton Solo, Ev. Victor Rarung sebagai rohaniawan yang telah menerjunkan dirinya dalam pekabaran Injil ke berbagai tempat, akhir berhasil memecahkan sejarah pemberian gelar dalam Keraton Surakarta yang justru tidak terkait dengan „darah biru“ dan kekerabatan.

Meski etnis Minahasa memiliki ikatan historis dalam sejarah kerabat keraton Yogyakarta dengan migrasi politik kolonialisme Hindia Belanda pada Kiyai Modjo bersama 62 pengikutnya, demikian pula Pangeran Diponegoro dan sembilan pengikutnya di Fort Niuew Amsterdam di Manado(kini jadi Gedung Juang).

Terlepas dari kiprah Ev. Victor Rarung sebagai rohaniwan Kristen pertama asal Minahasa yang dianugerahi gelar bangsawan dari keraton berpengaruh se-antero Jawa itu, hal ini menunjukkan kemampuan personal dirinya bisa melakukan dialog dan komunikasi lintas budaya(cross culture communication).

Atas kemampuannya membangun komunikasi lintas budaya — Poros Budaya Solo-Minahasa(Manado) —, Victor Rarung yang juga mantan jurnalis televisi itu, mungkin menjadi Orang Minahasa pertama yang menerima gelar ningrat dari Keraton Solo dengan gelar Kanjeng Raden Aryo Hadiningrat.

Kepantasan Pdm.Victor Rarung,M.Th menerima gelar tersebut dinilai karena kiprah dan aktivitasnya telah memberikan kontribusi dalam promosi kerukunan antar umat beragama, perdamaian, dan toleransi di dalam masyarakat.

Karens itu, Drs. KGPH Adipati Dipokusumo,MSi selaku pemegang jabatan Pengageng Parentah Karaton Surakarta Hadiningrat menjelaskan bahwa pemberian gelar budaya dari Karaton Surakarta kepada Pdm.Victor Rarung,MTh sebagai Rohaniwan Kristen didasari oleh banyak pertimbangan dan kemampuan komunikasi lintas budaya yang dimiliki.

„Tindak semua orang, apalagi berasal dari lingkungan budaya yang berbeda dapat memperoleh apresiasi dan penghargaan seperti itu,“ tandas Prof. Ishak Pulukadang, tokoh masyarakat Sulut dari keturunan Kiyai Modjo atau kerabat Keraton Yogyakarta.

Dengan demikian, peran atas kontribusinya sebagai salah tokoh muda lintas agama dan budaya, gelar untuk Victor layak karenayang m telah turut memberikan kontribusi signifikan dalam mempromosikan kerukunan antar umat beragama, perdamaian, dan toleransi di masyarakat. Gelar ini merupakan bentuk penghargaan atas usahanys dalam menciptakan harmoni sosial melalui komunikasi lintas budaya yang intens dan otentik.

Penguatan nilai-nilai kebudayaan. Keraton Surakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa memiliki peran penting dalam melestarikan dan menyebarkan nilai-nilai budaya, termasuk nilai-nilai toleransi dan kerukunan.

Baca juga:  PPPK 2024 Terima Tunjangan, Berikut Daftar Nominalnya

Dengan memberikan gelar kepada tokoh lintas agama, keraton berusaha menegaskan kembali pentingnya nilai-nilai ini dalam kehidupan masyarakat.

Komunikasi budaya dan dialog antaragama dalam pemberian gelar berfungsi sebagai dorongan untuk terus melakukan dialog budaya dan komunikasi antaragama dalsm memperkuat ikatan kebudayaan, terutams yang diemban keraton Surakarta.

Dengan memberikan gelar kepada tokoh lintas agama, Keraton Surakarta juga ingin menunjukkan bahwa mereka mendukung pluralisme dan keberagaman. Ini bisa meningkatkan citra keraton sebagai institusi yang inklusif dan terbuka terhadap berbagai macam latar belakang dan keyakinan.

Dengan demikian, pemberian gelar budaya ini merupakan cara Keraton Surakarta untuk mendukung dan mempromosikan harmoni, toleransi, dan kerja sama antar umat beragama di Indonesia.

Setelah puluhan tahun perjalanan karirnya sebagai seorang jurnalis, sosok Victor Rarung diakui banyak memberikan khasanah bagi insan pers di Sulawesi Utara dan gelar ini, „Ia memang sangat pantas,“ ujar Dra. Rosjianie Arbie MHum, dosen di Fakultas Ilmu Budaya(FIB) Unsrat.

Akhirnya, di sela-sela usai prosesi gelar, „Semua karena campur tangan Tuhan Yesus Kristus. Dengan gelar bangsawan ini pastinya saya akan lebih giat lagi dalam pelayanan penginjilan serta dalam tugas di pemerintahan dan media,”pungkasnya sembari melempar senyum khasnya.

Di akhir acara, KRA Victor Rarung Hadiningrat.MTh, berpesan Ia akan ikut melestarikan budaya serta menjaga nama baik Keraton Kasunanan Hadiningrat Solo sampai kapanpun.

„Sungguh ini amanat agung terbesar dan terindah sepanjang hidup saya,“ sembari mendekapkan kedua belah tangan dari kepala berblangkon dan dadanya beremblem bintang jasa.
(Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *